Warganet dan Perbedaan Sudut Pandang di Media Sosial (Bagian 1)

Makin kesini warganet sekarang serem-serem, kamu akan mudah dihakimi ini itu hanya karena kamu nggak sepaham, hanya karena kamu beda sudut pandang. Kamu akan dibilang bungkam terhadap agama hanya karena kamu nggak koar-koar di linimasa. Dan sesungguhnya aku males aja meladeni yang seperti ini, karena yakin bakal nggak ada habisnya.

Which is, setuju nggak setuju nggak ada masalah, yang jadi masalah adalah kalau sudah sampai membenci lewat kata-kata/kelakuan yang bisa menyakiti orang. Sebegitu mudahkah menghakimi orang lain?

Dari pengalaman aja nih, bahkan sampai kebawa ke dunia nyata gitu lho, “Eh kamu kok ga pernah aktif di kajian lagi? Eh kamu jarang di Masjid sini lagi? Udah balik ke Gereja ya kamu?” Dan ketika aku mem-posting hal yang tidak sejalan dengan pemikiran mereka dengan gampangnya mereka menyebutku “munafik”.

Mereka terlalu sering menelan berita hoax, berita provokatif, yang pada akhirnya semua itu kebawa ke dunia nyata. Berita aja yang dibaca cuma headline-nya. Boro-boro mau ngebandingin sama sumber berita yang lain, boro-boro inisiatif cari sendiri berita yang benar. It is sad but that, my friend, is the reality. Akhirnya hati jadi mudah sekali berprasangka buruk terhadap orang lain. Lisan seolah sudah tidak mampu memfilter lagi. Ngeliat orang yang beda langsung panas, langsung emosi bawaannya.

Teknologi semakin maju, tapi lantas tidak membuat maju bagi sebagian orangnya. Begitu mudah internet kita akses, tapi begitu mudah juga buat ngata-ngatain orang, membully orang, menghina orang, siapapun itu. Teman sendiri, orang yang tidak kita kenal, artis, bahkan Presiden sekalipun.

Kita nggak merasa berhak untuk nyakitin hati orang lain hanya karena kita dan mereka berbeda prinsip, beda sudut pandang, beda pemikiran. Kalau dibilang kita harus berdakwah ke sesama Muslim dan menyampaikan kebenaran, walaupun kebenaran yang disampaikan Allah itu mutlak, cara dan akhlak dalam menyampaikannya-pun juga harus dipertimbangkan. Bukannya bela agama malah jatuhnya memperburuk citra Islam. Sesama Muslim saling berantem, terlebih soal isu politik yang sedang memanas akhir-akhir ini. So, tombol unfollow dan turn-off notification jadi lebih sering digunakan untuk menghindari perdebatan dan ke-eneg-an.

Citra Islam menjadi sebuah bentuk yang sangat buruk akibat perilaku umatnya atau pemeluknya.

Btw, Ramadhan sudah deket, sudah mau datang lagi. Sudah dapat apa dari Ramadhan tahun lalu? Merubah kita lebih baik kah? Tetap sama saja, atau malah lebih buruk?

(bersambung)

Advertisements