Tak Perlu Malu Menjadi Guru TK

Satu tahun sudah aku menekuni profesi sebagai seorang Guru TK. Sebelumnya adalah masa pencarian. Aku sempat bekerja di perusahaan telekomunikasi sebagai marketing, di percetakan sebagai visualizer dan operator, di sebuah perusahaan BUMN sebagai pemantau air bendungan, sampai pada akhirnya malah menyebrang jauh ke dunia pendidikan, yaitu pendidikan anak usia dini.

Modal utama menjadi pengajar di TK adalah kesabaran. Mungkin tak cukup kalau hanya dibilang sabar, lebih tepatnya ekstra sabar. Ternyata mendidik anak-anak tidaklah boleh sembarangan. Otak mereka ibarat spons yang sangat cepat menyerap informasi yang ada disekelilingnya, baik itu positif maupun negatif. Rasulullah pernah bersabda, bahwa semua bayi yang lahir di dunia ini adalah fitrah (Muslim), maka kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani ataupun Majusi. Itu artinya adalah mau diarahkan atau dibentuk seperti apakah anak-anak kita? Usia emas adalah masa pembentukan karakter anak, yang kesemua itu akan terbawa hingga ia menjadi dewasa kelak. Apabila kita seringkali menakut-nakuti anak, maka kelak ketika besar ia akan menjadi sosok penakut dan kurang percaya diri. Apabila kita sering memaksa anak untuk makan misalnya, maka justru ia menjadi trauma terhadap makanan. Apabila kita sering melarang anak ini itu, maka berapa banyak saraf otak yang terputus. Ada bermilyaran jaringan saraf pada otak anak. Jangan batasi kreativitas anak, selama kegiatannya positif maka dukung terus minatnya. Semakin banyak informasi yang diterima oleh anak maka semakin cepat otaknya berkembang. Tanamkan nilai-nilai positif. Perkembangan otak mereka sangatlah cepat. Biarlah mereka bereksplorasi, tugas kita adalah mengawasinya dan juga memberikan pengertian. Kalau biasanya anak-anak lebih sering diajak untuk mendengarkan kita, maka ubahlah imej tersebut berbalik menjadi anak-anak yang lebih sering bercerita, sedangkan kita menjadi pendengar yang baik. Terkadang anak-anak lebih cerdas daripada kita yang dewasa. Everychild is smart. Tidak ada anak yang bodoh.

Untitled-1

Sekarang kembali ke permasalahan profesi sebagai Guru TK. Entahlah, mengapa banyak yang minder menjadi guru TK. Ketika ada yang ditanya apa pekerjaannya, ia merasa malu untuk menjawab sebagai Guru TK. Untuk apa malu? Menjadi Guru adalah panggilan hati. Bila murni panggilan dari hatinya seharusnya tidak perlu malu untuk menjadi profesi mulia ini. Apalagi aku adalah laki-laki. Guru TK laki-laki terbilang sangat minim. Aku merasa terpanggil untuk menjalani profesi ini. Terjun ke dunia pendidikan itu berarti pengabdian, mengabdi untuk mencerdaskan anak bangsa yang lebih baik lagi. Lebih banyak mengabdi (lillahi ta’ala) ketimbang memikirkan gaji. Ilmu yang kita sampaikan juga akan dibawa oleh anak-anak sampai kelak ia menjadi dewasa. Walau gaji yang diterima tidaklah banyak, namun InsyaAllah berkah. Seberapapun gaji itu, apabila dijalani secara ikhlas maka terasa akan selalu tercukupi. Tak perlu khawatir atau ketakutan dengan gaji, yakinlah Allah itu Maha Kaya. Janganlah memohon supaya diberikan banyak rezeki, namun mintalah agar rezeki kita selalu tercukupi, sehingga kita menjadi orang-orang yang bersyukur dan tidak berbuat melampaui batas.

Saat diadakan pertemuan guru TK se-kota Malang, maka yang aku lihat adalah banyak sekali guru perempuan, sedangkan guru laki-lakinya hanya sedikit, masih bisa dihitung dengan jari. Tapi saat itu aku cuek sajalah, kenapa musti minder kalau memang menjadi guru TK adalah murni panggilan hati?

Majulah pendidikan di Indonesia!

Advertisements

One thought on “Tak Perlu Malu Menjadi Guru TK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s