Gadget, Game Online & Sex Education For Children

edit2

Sabtu siang hari saya mendapatkan tugas untuk menghadiri sebuah seminar di sebuah sekolah TK di kota Malang. Seminar tentang Bahaya Game Online dan Gadget bagi anak. Saat pembicara bertanya, “Coba saya ingin bertanya kepada para hadirin disini, siapa yang setuju anak itu tahu tentang seks?” Dan yang mengacungkan tangan hanya 2 orang saja, padahal yang hadir saat itu kurang lebih sekitar 50 peserta, sisanya tidak tahu apa-apa dan ada yang tidak setuju. Saya memberanikan diri mengacungkan tangan pertanda saya setuju sekali. Kenapa? Karena anak-anak itu sangat perlu diberikan sex education ketika ia berusia minimal 2-3 tahun.

Mungkin di benak banyak orang ketika mendengar kata “sex” (seks) adalah hubungan badan atau suatu hal yang negatif. Padahal dari artinya saja, sex pada dasarnya adalah jenis kelamin.

Terungkapnya kasus pelecehan seksual anak TK mengundang perhatian dari berbagai kalangan khususnya orangtua peserta didik. Seluruh warga sekolah termasuk Guru maupun Karyawan dan Orangtua peserta didik bertanggung jawab penuh atas keamanan siswa-siswi yang ada di lingkungan sekolah. Pembekalan mengenai pendidikan seks untuk anak perlu dilakukan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya pelecehan seksual. Anak-anak itu sudah pantas diberikan informasi mengenai bagian tubuh mana yang boleh dan yang tidak boleh dipegang oleh orang lain, bahkan keluarganya sekalipun. Bagi pihak sekolah, penyeleksian karyawan secara ketat dan selektif sangat penting untuk mengetahui apakah karyawan tersebut adalah orang yang bertanggung jawab dan berlatar belakang baik atau tidak.

Bekali Sejak Dini

Bagaimanapun mencegah merupakan langkah terbaik yang bisa dilakukan orangtua sebelum terjadi hal-hal yang diinginkan kepada anak, terutama tindak kejahatan seksual.

  1. Jelaskan pada anak bahwa alat kelamin tidak boleh dipertontonkan secara sembarangan. Tumbuhkan rasa malu dan biasakan memakaikan handuk penutup atau pakaian ketika anak keluar dari kamar mandi. Ada empat area vital yang dilarang disentuh oleh orang luar, antara lain: Bibir, Dada, Alat kelamin, dan Pantat.
  2. Gunakan bahasa yang jelas.

Walau anak-anak belum sepenuhnya memahami, perkenalkanlah alat-alat kelamin dengan menyebutkan namanya dengan benar. Orang tua tidak perlu mengganti istilah-istilah sensitif dengan kata-kata yang lebih halus, karena dianggapnya tabu. Orang tua boleh saja menyebutkan vagina dan penis pada anak rentang usia 2-4 tahun. Efeknya, anak tidak akan bingung dan bisa menjadi lebih berani membicarakan kondisi yang berkaitan dengan alat kelaminnya sendiri.

  1. Siapa saja yang boleh melihat dan menyentuh.

Ajarkan siapa saja orang yang boleh memegang alat vital si anak. Ajarkan bahwa hanya Ibu, Ayah, Guru maupun pengasuh yang dipercaya orang tua yang boleh melihat dan menyentuh alat vitalnya. Itupun hanya untuk keperluan membantu si kecil, misalnya membersihkan dubur setelah selesai BAB.

  1. Hilangkan perasaan bersalah

Banyak anak korban kekerasan seksual tidak mengetahui bahwa apa yang dilakukan si pelaku merupakan hal yang buruk dan salah. Jelaskan pada anak bahwa bukan salah anak bila ada orang dewasa yang bertindak secara seksual terhadap mereka.

 

Bahaya Gadget Pada Anak Usia Dini

Meski saat ini penggunaan gadget sudah mewabah, ada baiknya tetap mewaspadai resiko yang ditimbulkannya terhadap kesehatan, khususnya bagi anak:

Resiko Radiasi.

Berbagai penelitian menunjukkan, paparan radiasi ponsel dapat berdampak serius bagi kesehatan. Sebaiknya anak tidak terus menerus memakai gadget untuk mengurangi paparan radiasi.

Resiko Kecanduan.

Kecanduan game online, maupun pornografi sebenarnya lebih parah daripada kecanduan narkoba. Penelitian Rutgers University menunjukkan BB misalnya, memicu ketergantungan dan membuat penggunanya memerlukan terapi yang lebih sulit daripada terapi ketergantungan obat-obatan.

Resiko Insomnia.

Memainkan gadget maupun game online dapat membuat pola tidur terganggu. Sehingga akhirnya menyebabkan insomnia. Kurang tidur juga menyebabkan sakit kepala dan sulit konsentrasi.
image

Diatas adalah gambaran otak yang rusak karena kecanduan game dan pornografi. Kerusakan yang diakibatkannya ternyata lebih fatal daripada karena benturan.

 Efek Nonton Spongebob, Anak Jadi Lamban

Menurut sebuah studi yang baru-baru ini dikeluarkan, anak-anak mengalami kesulitan belajar segera setelah menonton film kartun di televisi yang penuh dengan gambar dan kegiatan atau tingkah laku para tokoh kartun yang tidak mungkin ada dalam dunia nyata.

Efek tersebut oleh para peneliti dinamakan “Efek SpongeBob”, yang diambil dari nama “SpongeBob Squarepants”, sebuah karakter kartun di petualangan bawah laut yang hampir ditonton oleh setiap anak di seluruh dunia.

Peneliti dari Universitas Virginia ingin mengetahui apakah menonton “SpongeBob” mempengaruhi kemampuan anak-anak untuk cepat belajar setelah melihat menonton film tersebut. Untuk mengetahui hal tersebut penelitian dilakukan oleh sekelompok anak yang berumur empat tahun untuk menonton video pendek “SpongeBob” atau pertunjukan animasi lain yang lebih realistis seperti “Caillou”. Dan kelompok anak-anak lainnya menghabiskan waktu dengan menggambar.

Salah seorang peneliti, Angelina Lillard, mengatakan tes tersebut menggunakan metode tes standart yang dirancang untuk mengukur kemampuan anak-anak tersebut berkonsentrasi belajar dan memecahkan masalah.

Hasil dari penelitian tersebut adalah anak-anak yang menonton “SpongeBob” lebih lambat untuk segera melakukan aktivitas lainnya dibandihgkan dengan anak-anak yang hanya menghabiskan waktu dengan menggambar.

Lillard mengatakan salah satu alasan mengapa acara sperti “SpongeBob Squarepants” mungkin mempengaruhi pembelajaran adalah karena kombinasi dari kecepatan dan konten. Menurutnya anak-anak dapat dengan cepat memproses hal-hal yang baru mereka lihat, dan itu sulit diproses karena adegan yang ada di dalam film SpongeBob tidak benar-benar terjadi di kehidupan nyata.

Lillard menjelaskan bahwa studinya hanya melihat bagaimana anak-anak dapat belajar dengan cepat setelah menonton acara TV, sehingga dia tidak bisa mengatakan apakah menonton jenis program tertentu dapat memberikan efek permanen pada cara anak-anak tersebut belajar. Ia juga mengatakan orang tua harus berpikir saat anak-anak mereka menonton film tersebut dan seberapa sering mereka menonton, karena pasti akan ada efek tertentu setelah itu.

Sumber: Seminar Parenting @ Rumah Cerdas, Republika.co.id

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s