EDUCATION

parenting

Kecintaanku pada anak-anak diawali ketika aku pertama kali menjadi seorang pengajar di sebuah sekolah untuk anak usia dini yang baru berdiri di Kabupaten Malang. Sebelumnya, terhadap anak-anak ya biasa saja. Kalau ada anak yang lucu dan imut hmm gemes sekali, biasanya ku-uyel-uyel pipinya hehehe. Habis lucu sekali. Apalagi kalau sama keponakan sendiri, pernah kuganggu sampai ia menangis, saking aku gemesnya. Kalau ada keponakan yang nakal, kalau dikasi tau nggak mau menggubris biasanya kutakut-takuti “hei kalau kamu nggak mau dengerin om nanti kamu didatangi hantu lho, hiiiii.” Kemudian apa yang terjadi? Keponakanku yang masih 2 dan 4 tahun itu lari ketakutan sambil menangis ke arah Ibunya. Hmm betapa jahatnya aku saat itu. Tapi, sepertinya bukan aku saja. Di Keluargapun juga nggak jauh beda denganku. Mulai Tante, Paman, Kakak, Adik jika mereka dihadapkan dengan anak-anak kecil yang susah diatur maka ya seperti yang aku lakukan tadi. Ditakut-takuti, kadangkala dibentak. MasyaAllah.

Seiring berjalannya waktu, aku melamar menjadi pengajar di sebuah TK, alhamdulillah mendapat response yang baik dari pihak sekolah. Padahal aku ini memiliki pengalaman mengajar saja tidak pernah, suka dengan dunia anak juga tidak. Ketika tes berlangsung aku pun kebingungan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disodorkan. Aduh bagaimana ini, ah pasti aku gagal nih jadi guru. Padahal Bapak dan Ibuku adalah Guru. Maka keesokan harinya, aku terkejut, aku lolos lagi ke babak berikutnya. Apa? Padahal kan aku ngawur ngerjakan soal-soalnya.

Sampai pada akhirnya aku masuk masa training. Yang diterima saat itu ada 4 pengajar laki-laki (termasuk aku) dan 4 guru perempuan. Didatangkan beberapa tim pengajar dari Amania Islamic School, Jakarta. Pengajaran yang kami terapkan adalah berbasis sentra. Karena aku senang sekali dengan dunia seni, maka aku ditempatkan pada sentra seni. Sedangkan anak-anak atau para peserta didik adalah didatangkan dari warga sekitar sekolahan. Dan mendadak telinga ini mulai diramaikan dengan suara-suara tangisan, teriakan anak-anak yang bermain, ada juga yang sedang berantem rebutan mainan, hadeuh benar-benar ujian kesabaran. Hahaha. Tapi dalam masa penggodokan itu, aku perlahan sadar dan mengerti. Bahwa mendidik atau merawat anak-anak bukanlah suatu perkara yang mudah dan tidak boleh sembarangan. Otak ini berputar ke masa silam, yaitu suatu masa dimana aku masih senang menggoda-goda keponakan-keponakanku. Aku benar-benar merasa bersalah, sungguh. Ketika aku menakuti-nakuti anak, membentak, karena aku belum bisa mengkontrol emosiku, ternyata dampak terhadap anak bisa berakibat FATAL!

Aku bersyukur kepada Tuhan, rupanya Tuhan mengabulkan permohonanku supaya aku menjadi orang-orang sabar adalah dengan dimasukkan-Nya aku di dunia PAUD. Modal utama menjadi guru PAUD adalah kesabaran. Nggak cuma guru PAUD, tapi juga para orang tua, harus dituntut sabar ketika mengasuh atau merawat anak-anaknya. Kita pun dimasa kecil dulu pasti juga seperti anak-anak ini, mungkin lebih parah dari mereka hehehe.

Oh ya, ternyata yang kulakukan terhadap keponakan-keponakanku dulu memiliki efek yang buruk dan akan terbawa hingga ia besar nanti. Seperti mencubit-cubit gemas pipi anak-anak, maka si anak akan mengingatnya dengan baik dan akan ditirunya terhadap anak lain. Kita mengira bahwa si anak tadi sedang memukul atau menyakiti temannya, padahal besar kemungkinan si anak tadi meniru apa yang kita lakukan padanya. Tuh kan… kudu hati-hati sekali lho ternyata. Jadi yang kulakukan saat ini adalah menebus kesalahan-kesalahanku yang dulu terhadap keponakan-keponakanku. Kupraktekkan saja ilmu yang kuperoleh selama mengajar di TK. Bermain sambil belajar bersama mereka, menyenangkan sekali.

Lalu contoh lainnya adalah ketika kita membentak anak. Tahukah kita? Ternyata ketika anak dibentak maka milyaran sel otak anak akan RUSAK. Di dalam setiap kepala seorang anak terdapat lebih dari 10 trilyun sel otak yang siap tumbuh. Satu bentakan atau makian mampu membunuh lebih dari 1 milyar sel otak saat itu juga. Satu cubitan atau pukulan mampu membunuh lebih dari 10 milyar sel otak saat itu juga. Sebaliknya 1 pujian atau pelukan akan membangun kecerdasan lebih dari 10 trilyun sel otak saat itu juga. Subhanallah!

Teriakan dan bentakan menghasilkan gelombang suara. Ya, hampir semua orang mengetahui itu. Yang belum banyak diketahui orang banyak adalah, bentakan yang disertai emosi seperti marah menghasilkan suatu gelombang baru. Lalu apa efek buruknya? Efek jangka panjangnya dapat dilihat pada orang-orang yang sering mengalami bentakan di masa kecilnya atau masa lalu. Mereka lebih banyak melamun serta termasuk lambat dalam memahami sesuatu. Orang-orang ini biasanya mudah meluapkan emosi negatif seperti marah, panik atau sedih. Mereka biasanya seringkali mengalami stress hingga depresi dalam hidup, karena kesulitan memahami pola-pola masalah yang mereka hadapi. Semuanya akibat dari sel-sel otaknya yang aktif lebih sedikit dari yang seharusnya. *menghela nafas panjang*

images

Sekarang marilah kita melatih menahan amarah dengan banyak berdzikir dan mengingat bahwa anak-anak itu adalah peniru yang handal. Berikan pujian tulus dan pelukan kasih sayang kepada anak-anak kita agar kelak menjadi anak yang cerdas berjiwa penuh kasih sayang. Aamiin Ya Rabbal ‘alamiin. 🙂

Advertisements

2 thoughts on “EDUCATION

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s